HealthcareUpdate News

Masih 9 Juta Warga Indonesia BAB Sembarangan, Ancaman Serius bagi Kesehatan dan Lingkungan

Meski program sanitasi nasional terus digalakkan, hingga 2024 masih ada sekitar 9 juta warga Indonesia yang buang air besar sembarangan di tempat terbuka

Masalah sanitasi dasar masih menjadi pekerjaan rumah besar di Indonesia. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, sebanyak 3,2 persen rumah tangga di Indonesia masih melakukan buang air besar sembarangan (BABS) di tempat terbuka seperti sungai, kebun, atau area kosong. Jika dihitung, angkanya setara dengan sekitar 9 juta jiwa.

Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun program “Stop BABS” sudah berjalan lebih dari satu dekade, sebagian masyarakat belum memiliki akses ke jamban sehat atau belum memiliki kesadaran akan pentingnya sanitasi.

Kondisi ini juga masih ditemukan di kawasan perkotaan, termasuk di ibu kota. Di Kemanggisan, Jakarta Barat, sejumlah warga masih dilaporkan buang air besar di aliran kali karena keterbatasan fasilitas toilet umum di sekitar permukiman padat. Aktivitas ini bukan hanya mencemari lingkungan, tapi juga meningkatkan risiko penyebaran penyakit.

Menurut Kementerian Kesehatan RI, perilaku BABS dapat menimbulkan berbagai penyakit berbasis lingkungan seperti diare, kolera, tifus, dan cacingan. Setiap gram tinja manusia mengandung jutaan bakteri dan virus yang dapat mencemari air tanah dan sumber air minum masyarakat sekitar.

“Buang air besar sembarangan adalah salah satu penyebab utama tingginya kasus diare di Indonesia, terutama di daerah padat penduduk yang minim akses sanitasi,” ujar dr. Siti Nadia Tarmizi, Juru Bicara Kementerian Kesehatan.

Selain ancaman penyakit, kebiasaan BABS juga memperburuk kualitas lingkungan. Sungai-sungai di perkotaan seperti Ciliwung dan Angke kini menjadi salah satu titik rawan pencemaran akibat tinja manusia dan limbah rumah tangga.

Read More  Operasi Keselamatan Jaya 2026, Polda Metro Fokus Tertibkan Lawan Arus hingga Knalpot Brong

Pemerintah menargetkan Indonesia bisa mencapai akses sanitasi layak 100 persen pada 2030 sesuai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Upaya tersebut melibatkan pembangunan toilet komunal, penyediaan septic tank sehat, serta edukasi perilaku hidup bersih di masyarakat.

Meski demikian, pencapaian target ini membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk peran aktif warga. Tanpa perubahan perilaku dan kesadaran bersama, ancaman pencemaran dan penyakit akibat BABS akan terus menghantui masyarakat, bahkan di tengah kota besar seperti Jakarta.

Back to top button